Mount Merapi illuminated by the Sunrise, Magelang Regency # Central Java – Indonesia

August 26, 2020

Today we are hashing near Kedung Kayang Waterfall. Because I have a plan to trekking in Mountain on September, so today I decided to join long trek.

We won’t visit the Kedung Kayang Waterfall, instead walk another path.

Kedung Kayang waterfall located in Wonolelo, from Magelang go to Blabak, and turn left to Ketep Pass direction. But, don’t turn left to Ketep Pass, instead turn right to Boyolali direction.

The hash route for long is not too hard this time. First you follow the good path, and in there, we see a beautiful scene: Mount Merapi illuminated with sunrise, while Mount Merbabu didn’t, so it looks like the sun splitting Mount Merapi into 2 color.

After walk quiet far, we turn left and meet the small and steep path. We go down to valley, and then going up, the path is very small and you have to becareful because the soil is wet.

Nothing extreem path in here, and we took 5,22km.

It’s nice to be able to trekking in the mountain with beautiful view.

VLog

I have a new hobby, actually, I wants to do this hobby quiet a long time ago. But each time I have plan, and the plan is always only a plan. Sometimes, I even forgot if I have plan of vlogging. hehe…

Actually, I want to really doing it when my trip to New Zealand this October, I even bought some action camera. But because the current situation, I have to postponed the trip.

And now, I decided to make it happened.

VLog / Blog Video,  is a form of blog for which the medium is video, and is a form of web television. Vlog entries often combine embedded video (or a video link) with supporting text, images, and other metadata. Entries can be recorded in one take or cut into multiple parts. Vlog category is popular on the video-sharing platform YouTube.

In recent years, “vlogging” has spawned a large community on social media, becoming one of the most popular forms of digital entertainment. It is popularly believed that, alongside being entertaining, vlogs can deliver deep context through imagery as opposed to written blogs.

Video logs (vlogs) also often take advantage of web syndication to allow for the distribution of video over the Internet using either the RSS or Atom syndication formats, for automatic aggregation and playback on mobile devices and personal computers.

Source: Wikipedia

Actually, it seems like we are making a serial drama / tv series / reality show, but the content is about reportng, just like news. And for me, that not good in history and reporting, it’s a hard things to do.

It’s really different with blogging, because in blogging, we are writing, and we check the article before publish.

But in vlogging, you need to know what to say, and the plot, and not make any mistake while reporting.

I know that each people has different skill, maybe for some people, they are born naturally for reporting something and speaking. But, I think this won’t make me not doing this new hobby. So I try to make some script for what’s the point that I want to say, and shooting some action that suitable with the vlog. And editing it, to make it looks like a story. Usually, I only make some VClip without me reporting. But this time, I really want to make video blog, and I’m doing it because I really want to do it, not because of I need traffic.

So far, I enjoy the process, and I think I will always continue this until I don’t know when. Is there anyone who maybe share something about how to vlogging? I would like to appreciate it. Here’s some of my vlog video, this is my first one and 2nd one (Indonesian language).

1st vlog
2nd vlog

And will be there more.. I know it’s not perfect, but I’m learning. And believe that practise makes perfect.. A dancer, will always practise his/her dance, so is a singer.

Berkat Garuda Indonesia, Saya bisa mengunjungi Jember

Sewaktu saya cek email, tiba-tiba terlihat email dari Garuda Indonesia dengan subjek “Bagi Kisah Perjalanan Anda, Menangkan Tiket Garuda Indonesia Gratis!”. Wow… Kebetulan saya suka menulis kisah perjalanan saya, hanya saja karena keterbatasan waktu, jadi masih tertahan dengan trip tahun lalu. Akhirnya, hari ini saya sempatkan untuk menulis blog, untuk ikut kompetisi ini. 
Jember, adalah sebuah kabupaten di Jawa Timur. Kebetulan saya ada saudara disana, sehingga saya bisa mengetahui ada tempat bernama Jember. Sudah lama mereka meminta saya main kesana, tapi karena pertimbangan transportasi (waktu itu belum ada penerbangan Garuda ke Jember), bepergian sendirian, dan tidak ingin merepotkan saudara saya yang antar-jemput di Surabaya, jadi belum terpikirkan untuk main ke sana.
Akhir tahun 2014, saudara saya tiba-tiba mengajak saya mengunjungi Gunung Bromo dan Kawah Ijen, dan menghabiskan waktu di Jember di bulan Juni 2015. Saya ingat, Garuda Indonesia baru saja membuka rute baru Surabaya-Jember PP. Setelah menimbang-nimbang, dan ternyata kebetulan saya senggang di waktu tripnya, akhirnya saya memutuskan untuk ikut trip tersebut.
Berangkat dari Yogyakarta ke Surabaya dengan Lion Air, saya dijemput oleh saudara di Surabaya. Lalu kami bersama-sama menuju ke Gunung Bromo.

Kami menginap di Lava View Lodge. Kebetulan juga hotel yang kami pilih, terletak di paling atas, sehingga dari lobby hotel bisa terlihat pemandangan Kawah Bromo dan beberapa gunung lainnya dengan jelas. 
Bangun subuh, kita naik jeep sewaan melewati padang pasir hanya untuk melihat sunrise dari Penanjakan 1 yang benar-benar indah, dan menikmati keindahan gunung Bromo dan beberapa gunung disekitarnya. Lalu setelah itu menuju ke bawah kaki gunung dan dilanjutkan mendaki dengan kuda yang diakhiri dengan naik 250 anak tangga menuju ke Kawah Bromo. 
Mengunjungi Gunung Bromo benar-benar merupakan petualangan yang lain daripada trip-trip saya lainnya. 

Pemandangan Gunung Bromo dari Penanjakan 1
Kawah Gunung Bromo

Kami sempatkan juga mengunjungi Padang Rumput Savana atau dikenal dengan nama Lembah Jemplang atau ada juga yang bilang Bukit Teletubbies karena menyerupai rumah Teletubbies dalam film anak-anak. Sayangnya, kata Guide kita, yang sekaligus merupakan supir dari jeep sewaan, bulan Juni merupakan musim kemarau, sehingga padang rumput tersebut tidak sehijau sewaktu musim hujan (sekitar bulan Maret / April). 
Dari Padang Savana, kami mengunjungi Pasir Berbisik yang sayangnya angin kurang bertiup sehingga tidak terdengar bisikan pasir. 
Selain pengalaman menjelajahi Gunung Bromo, yang tidak kalah serunya juga mendaki Gunung Ijen. Dimana kami berangkat subuh dari Jember, yang ditempuh sekitar 2-3 jam dengan mobil melewati daerah perhutani. Lalu jalan naik sekitar 2 jam’an, dan disambut dengan pemandangan kawah yang menakjubkan. Yang biking terpesona lagi adalah, para pembawa belerang. Sehari mereka bisa 2x naik-turun Gunung Ijen, dimana waktu turun gunung bisa membawah bongkahan belerang seberat hampir 100kg. Saya yang tidak membawa apa-apa saja merasa berat dalam melangkah, apalagi kalau bawa beban seberat itu. Benar-benar salut kepada mereka…

Perjalanan menuju Kawah Ijen 
Kawah Ijen

Selain kedua lokasi wisata diatas, sisanya saya habiskan di Jember. Kesan pertama terhadap kabupaten ini, kabupaten yang cukup ramai, dan suasananya hidup, perekonomiannya juga termasuk maju. Banyak tempat makan yang merupakan khas Jember dan selalu ramai. Saya sempat ke pantai Watu Ulo, Pantai Papuma, dan cafe Gumitir. Juga sempat menuju Banyuwangi yang kira-kira 2 jam dari Jember, hanya untuk menyebrang ke pulau Bali dengan kapal feri dan makan Ayam Betutu Men Tempeh yang terkenal.
Tidak terasa waktu trip 6 hari cepat berlalu.
Saya kembali ke Surabaya, dengan pesawat Garuda Indonesia dari Jember. Inilah kenapa saya memutuskan ikut trip ini karena ada pesawat menuju/dari Jember, karena saya bepergian sendiri, dan transportasi yang paling nyaman adalah dengan terbang. Meskipun bandara Jember ternyata letaknya agak pinggiran dan bandaranya tidak terlalu besar, namun uniknya, karena yang beroperasi disitu hanya Garuda Indonesia dan Susi Air, dan jam penerbangan Garuda Indonesia untuk kedatangan dan keberangkatan masing-masing hanya 1x per hari, di sela-sela jam kedatangan (jam 09:50) dan keberangkatan (jam 10:20), banyak penduduk di sekitar bandara yang datang membawa anak-anak mereka berjajar dipinggiran pagar bandara hanya sekedar untuk melihat pesawat mendarat dan pesawat tinggal landas.

Meskipun merupakan pesawat baling-baling, namun pesawat Garuda ini cukup nyaman. Bahkan meski perjalanan hanya 55 menit, saya mendapatkan snack yang benar-benar ekslusif.

Setiba di Surabaya, yang ternyata pesawat Garuda Indonesia mendarat di terminal 2 bandara International Juanda, saya harus pindah ke terminal 1 karena penerbangan ke Yogyakarta menggunakan Sriwijaya. Dan untungnya ada shuttle bus gratis jadi saya tidak perlu bingung-bingung cari taksi.